Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Toleransi dalam Berperan

Kementerian Sosial sendiri menyebutkan bahwa yang disebut keberfungsian sosial adalah:

Kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, memenuhi kebutuhan, dan mengatasi masalah

Jadi bisa dipahami keberfungsian adalah kondisi individu untuk memenuhi tugas-tugas kehidupan, memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah kita menggunakan peran-peran dengan segala macam indikator peran yang baik disematkan kepada kita.

Suka tidak suka.

Seorang Ayah/Ibu/Anak bahkan pekerja sosial dalam menjalankan perannya, baik buruknya akan dinilai secara tidak langsung oleh masyarakat. Ayah yang baik itu harus lantang, harus begini harus begitu.

Masyarakat yang menciptakan nilai-nilai, masyarakat pula yang menyepakati nilai-nilai tersebut, dan kita sebagai bagian dari masyarakat berarti juga terlibat dalam pembentukan ini.

yang ingin saya gambarkan diatas adalah bagaimana nilai-nilai yang ada di masyarakat sangat mempengaruhi peran-peran individu di dalam lingkungannya.

Toleransi dalam Profesi Pekerjaan Sosial

Kembali ke Toleransi terutama kaitannya dengan profesi pekerjaan sosial.

Kalau kita bicara mengenai pekerja sosial sebagai sebuah profesi, maka kita bicara pekerja sosial sebagai profesi professional yang terikat oleh body of knowledge, body of value dan body of skill.

Body of value ini yang didalamnya ada pertemuan antara kode etik pekerja sosial dan juga nilai norma yang ada di masyarakat.

Pertemuan ini juga yang menjadi pertanyaan saya? sejauh mana perbandingan kode etik dan nilai norma ini mempengaruhi seorang pekerja sosial dalam memberikan pelayanannya.

Coba kita ambil salah satu contoh kasus.

Kasus LGBTQ, dimana mayoritas penduduk Indonesia setuju bahwa rekan-rekan dari komunitas LGBTQ tidak melakukan hal yang benar sesuai dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat, dianggap tabu atau tidak sesuai dengan kodrat yang diberikan Sang Pencipta.

Nilai-nilai yang ada di masyarakat menyepakati bahwa rekan-rekan dari komunitas LGBTQ itu menyalahi kesepakatan bersama.

Nah, sekarang coba saya kutip dari pembukaan Kode Etik Profesi Pekerjaan Sosial dari website IPSPI

“Profesi pekerjaan sosial menempatkan kaidah-kaidah hak asasi manusia, demokrasi, dan keadilan sosial sebagai landasan dan motivasi bagi tiap-tiap pekerja sosial untuk mengakui keunikan dan kesetaraan setiap orang dan oleh karenanya menghargai harkat dan martabat serta tanggung jawab sosial.”

Pekerja sosial menempatkan kaidah hak-hak asasi manusia dan mengakui keunikan dan kesetaraan setiap orang. Itu amanat yang ada di salah satu paragraf pembukaan kode etik. Hemat saya, berarti pekerja sosial harus menghargai keunikan orang lain dan menjunjung tinggi kesetaraan dari setiap orang. Terlepas dari agama, ras, jenis kelamin, gender dan orientasi seksual.

Meskipun sebenarnya kode etik profesi tidak bisa hanya disimpulkan dari satu paragfraf saja, yang saya angkat adalah bagaimana kesetaraan tiap orang dan keunikan-keunikannya dijunjung tinggi oleh profesi pekerja sosial.

Dilema

Dilema yang bisa muncul adalah bagaimana seorang pekerja sosial sebagai sebuah profesi menyeimbangkan nilai-nilai ini, dan bagaimana outputnya nanti terhadap proses pelayanan yang diberikan?

Tentu saja nilai-nilai pribadi dari individu seorang pekerja sosial juga akan mempenagruhi, tapi coba kita taruh individu pekerja sosial ini adalah orang yang populis. Mengikuti apa yang orang banyak katakan dan lakukan, meskipun belum tentu benar.

Apa si pekerja sosial ini salah bila tidak mau melayani teman-teman dari komunitas LGBTQ?

Atau justru sebaliknya, pekerja sosial tadi bisa dibilang menyalahi kode etik pekerja sosial?

Jadi sampai sejauh mana toleransi ini ditempatkan dalam profesi pekerja sosial?

Atau sejauh mana nilai-nilai di masyarakat ini mempengaruhi peran sebagai pekerja sosial dalam diri seorang individu?

Seandainya ada solusi, apa yang harus dilakukan seorang pekerja sosial untuk menyeimbangkan pemenuhan perannya tanpa menciderai salah satu nilai yang mengikatnya?

© Radityo Bimo Kartiko Aji, S.Tr.Sos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.