Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Tentang Perbandingan

Beberapa waktu kebelakang. Dalam waktu yang sempit. Saya diberi kesempatan mempelajari hal lebih banyak daripada biasanya. Belajar dari orang lain dan belajar dari diri sendiri. Belajar dari media, belajar dari kerusuhan, belajar dari kemalangan orang, belajar dari kebahagiaan kelompok. Belajar mengukur kecukupan diri sendiri. Agar bisa meningkatkan kapasitas diri.

Ada satu hal yang mungkin dapat menjadi konsep kunci dari pembelajaran saya seminggu kebelakang ini. Kata kuncinya adalah Perbandingan.

Selama bekerja sebagai Pekerja Sosial. Baik sebagai pekerja sosial medis maupun pekerja sosial anak. Sadar atau tidak. Bahwa salah satu banyak faktor penyebab masalah manusia adalah adanya pembanding. Adanya objek yang dibandingkan. Utamanya dengan diri sendiri yang dibanding-bandingkan dengan orang lain. Perbandingan-perbandingan ini yang menyebabkan ketidakbahagiaan. Menyebabkan masalah yang sebenarnya tidak ada. Masalah laten menjadi masalah yang nyata. Menaikan potensi masalahnya.

Lagipula memang itu definisi masalah. Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.

Kita coba gambarkan dalam sebuah contoh kasus. Misalnya di salah satu daerah di Indonesia. Ada sebuah daerah yang tingkat pendidikannya tidak tinggi. Perilaku berhadapan dengan hukum tinggi dilakukan anak-anak. Pernikahan sedarah cukup tinggi. Hamil di luar nikah tinggi pula. Anak-anak menjadi korban dari sistem yang sudah ada. Sistem yang sudah settle secara mandiri, dan sepertinya akan sulit diubah. Oleh siapapun dengan cara bagaimanapun.

Karena adanya sistem budaya yang demikian. Generasi ke generasi mencetak manusia yang hampir sama pula. Sehingga mayoritas masyarakat sesuai dengan cetakan yang sudah ada. Seandainya generasi tersebut belum bisa dibilang unggul, berarti mayoritas masyarakat disekitarnya juga belum unggul.

Generasi-generasi baru kehilangan role model yang unggul. Karena melihat lingkungan sekitarnya juga rata-rata sama dengan dirinya. Salah satu media melihat dan mencari role modelnya hanya TV. Dimana informasi yang diberikan belum tentu selalu sesuai, karena mereka harus mengejar rating. Tidak peduli kualitas pengisi acara, asal ramai, maka akan senanglah para bos-bos diatasnya.

Role model lainnya dilihat anak-anak dari media sosial. Sayangnya akhir-akhir ini media sosial dibanjiri bahasan politik. Yang negatif pula, yang menunjukan perpecahan. Membagi-bagi masyarakat ke dua kotak yang berbeda. Kalau kamu bukan kotak adidas maka kamu kotak nike. Vice versa.

Padalah role model inilah yang nantinya akan dijadikan pembanding bagi anak-anak. Pembanding kehidupan mereka sekarang dengan kehidupan yang mereka idam-idamkan.

Kalau role modelnya tidak realistis. Maka semakin mudahlah anak-anak terjebak dengan hidupnya yang sekarang. “Ketinggian cita-citaku kalau begitu pak” kata mereka.

Pembanding yang ditunjukkan kepada anak harus realistis. Harus relate dengan kehidupan budaya mereka. Dapat mereka capai dengan kerja keras. Barulah disitu bisa diciptakan budaya masyarakat yang sehat. Satu sama lain saling terpacu. Meningkatkan kapasitas individu yang sesuai, lambat laun juga akan meningkatkan kapasitas orang-orang disekitarnya. Begitu teorinya. Tapi bisa juga salah. Jika si individu ini justru ikut hanyut dalam aliran air yang tenang dari lingkungan sekitarnya.

Maka dari itu mari kita coba pahami bersama. Proses pengubahan perilaku melalui modeling. Agar kita sama-sama mampu menjadi role model yang baik bagi siapapun yang mempercayai. Baik itu pekerja sosial, dokter, guru, petani, nelayan, pengacara dan berbagai profesi mulia lainnya. Pasti ada saatnya kita akan dituntut atau dipercayai baik secara sadar atau tidak sadar, bahwa kita ini juga role model.

Proses-proses pengubahan perilaku modeling dalam pekerjaan sosial sendiri terbagi menjadi empat proses.

  1. Proses attensional. Tahap pertama dan terpenting menurut saya. Dimana klien mengamati, mengendalikan dan membedakan berbagai aspek yang ada pada role modelnya. Disini role model sadar atau tidak sadar akan diobservasi oleh klien. Contoh termudah yang bisa dibuat adalah bagaimana anak akan mencontoh perilaku orangtuanya dalam berperilaku sehari-hari. Sang ayah bekerja keras pagi sampai malam untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, maka besar kemungkinan juga anaknya akan seperti itu juga. Atau contoh lain, saat beberapa tahun lalu waktu saya masih SD. Munculah sebuah tren emo, saya ingat dengan jelas banyak teman-teman di sekitar saya yang mengikuti. Dari gaya rambut, sampai dengan menyimpam atribut-atribut yang menunjukkan ke-emo-an mereka.
  2. Proses retentive. Klien mengingat dan menyimpan apa yang telah diobservasinya dari sang role model.
  3. Proses reproduksi motorik. Klien mempraktikkan secara aktual perilaku yang telah diobservasinya. Biasanya proses sebelum menuju reproduksi motorik ini cukup terjal. Klien yang diberikan role model yang baik, belum tentu akan mengikutinya. Kuncinya ada di cara pekerja sosial, membuat klien menjadi “minat”.
  4. Proses reinforcement. Klien memotivasi dirinya untuk melakukan dan atau mempraktikkan hasil observasinya. Role model apabila sadar, cukup memiliki peran yang penting. Memberilan penguatan agar perilaku-perilaku baru klien, dapat menjadi sebuah kebiasaan, yang harapannya nanti akan membawa kebaikan bagi klien itu sendiri.

Siapapun kita. Apapun kegiatan yang kita lakukan. Pada suatu saat, ada waktunya kita yang menajdi role model bagi orang lain. Pertanggungjawabannya berat.

Mau kita bawa orang tersebut ke hal yang lebih baik, atau malah sebaliknya?

Apapun pilihan-pilihan yang dipilih nanti, semoga kita semua tetap mampu menjadi pembanding yang realistis. Pembanding yang relate terhadap anak-anak. Pembanding yang apabila dibandingkan akan menambah semangat, bukan menguranginya.

Dan, semoga paradigma kita juga akan berbeda. Tidak lagi menjadi pembanding yang memaksakan anak-anak untuk setara, untuk sama dengan diri sendiri. Tetapi menjadi pembanding yang bisa meningkatkan minat anak-anak terhadap sesuatu yang baik.

Karena dengan minat, individu yang mau berubah, akan muncul komitmen dan konsisten.

Komitmen yang membuat seseorang mau memulai sesuatu.

Konsisten yang membuat seseorang dapat mencapai akhir dari sesuatu.

© Radityo Bimo Kartiko Aji, S.Tr.Sos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.