Kategori
Refleksi

Surat Terbuka untuk Diri Sendiri

Dibacakan oleh orang baik di masa kebahagiaan sedang langka. Terima kasih, M.P.

Selamat sore, Bim. Aku menuliskan ini untukmu di sore hari. Terserah kapan kamu mau membacanya, seadanya waktu saja. Kerjaan sedang tidak padat. Terdampak Covid-19 mungkin. Atau lebih enak didengar kita sebut Corona saja ya Bim. Ada banyak hal yang berubah sejak wabah ini terjadi. Baik untuk diriku sendiri, maupun mungkin kamu juga.

Kategori
Spoken Words

The Moon and The Sun

The Sun asked The Moon, “Why are you so vulnerable?”
and The Moon said, “Because i choose to.”

The Sun confused, “Why though? Look at me. I’m the most powerful things in the universe. Without me, there will be no life.”

“I know it so well, you are exactly what father want us to be. To be strong. To be a role model. To be perfect. But i’m not you. I choose to be vulnerable around her. Because she also choose to be vulnerable around me. Sometimes you just find things.” said The Moon.

***

Kategori
Sajak Spoken Words

S-P-O-K yang Pulang

S-P-O-K yang salah dipahami.

Pulang tidak pernah terkait keterangan tempat yang memunculkan ingat, ketika ada waktu yang sempat.

Pulang juga bukan objek, yang jadi bahan ejek dari teman lama di warung seberang pangkalan ojek.

Predikat juga enggan mengakui pulang. Alasannya karena yang pulang akan selalu dianggap pecundang.

Tapi, akhirnya aku sadar, kalau pulang itu selalu tentang subjek yang menghadirkan sosok.

Bersamanya dirawat ingatan, yang menemani petang yang dingin hingga pagi yang nyaman. Pulang itu selalu tentang kamu, dan semua sisi baik juga buruk yang menjadikannya candu.

Kategori
Narasi

Kemungkinan Idul Adha

Dikirim oleh seorang teman

Tiap-tiap dari kita menjalani hari-harinya dengan berlalu begitu saja. Sampai kadang sengaja tidak menyadarkan diri bahwa yang terjadi adalah akumulasi dari kemungkinan. Akumulasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan tidak terjadi. Dipilih atau tidak dipilih dengan berbagai macam latar belakang dan pertimbangannya.

Kategori
Cerita Pendek

Sua;Sua

*tuk tuk tuk*

Terdengar ketukan nada-nada dengan ritme yang konstan dari gawai itu. Jari-jarinya sudah mahir untuk mengetik. Apapun medianya. Tetapi, ada hal yang aneh kali ini. Tangannya gemetar dan kalimatnya tidak kunjung diselesaikan. Pernah hampir selesai, tapi kembali dihapus berulang-ulang. Dia ragu kali ini. Ragu untuk bertemu dengan emosi lainnya yang sudah lama tidak dirasakannya.

****

Kategori
Catatan Pekerja Sosial

Menormalkan Kematian bagi Anak

Saya pernah membaca sebuah puisi yang berjudul Childhood is the Kingdom Where Nobody Dies. Lalu bagaimana bila ada kematian di kerajaan itu? Utamanya di tengan pandemi seperti ini. Kekhawatiran banyak orang muncul dengan diumumkanya pembukaan sekolah-sekolah berdasarkan kesepakatan bersama dari teman-teman Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama dan juga Kementerian Kesehatan.

Dunia memasuki tatanan normal baru. Indonesia juga termasuk di dalamnya. Banyak yang harus dipaksa berubah. Seperti biasanya juga, perubahan tidak pernah menjadi hal yang mudah. Apalagi perubahan yang harus dipahami dan dijalankan oleh anak-anak.

Anak dalam masa perkembangannya belajar mengenai konsep sakit dan kematian. Saat masuk usia sekolah, setidaknya anak-anak sudah memahami konsep-konsep tersebut. Anak akan tahu saat seorang manusia sakit salah satu ujung akhirnya adalah kematian. Beberapa anak belajar hal ini lebih cepat dari yang lainnya.

Kategori
Cerita Pendek

Orang Baik

Aku selalu percaya bahwa manusia tidak pernah tahu apa yang dituliskan untuk dirinya. Kamu dan aku sama – sama tahu akan hal itu. Tapi, sepertinya sulit sekali untuk berpegangan teguh kepada sesuatu yang jauh ada di depan. Sesuatu yang kita tidak akan pernah tahu bagaimana yang sebenarnya. Kita diminta untuk harus memahami bahwa ada skenario terbaik yang sudah dituliskan oleh Yang Maha Mengetahui akan perjalan kita. Prosesnya tidak akan mudah. Penuh batu terjal dan juga karang yang tajam. Belum lagi angin dingin yang membuat sesak nafas apabila terjebak di dalamnya.

Kategori
Cerita Pendek

Laki-Laki yang Menunggu di Rumah Sakit

Nafi masih belum terbangun. Keajaiban yang ditunggu – tunggu keluarganya juga masih belum menampakkan kinerjanya. Setiap hari Nafi diberi asupan nutrisi melalui selang makan yang diletakkan di dekat hidung sampai ke lambungnya. Ia juga harus selalu mendapatkan bantuan pernafasan. Nafi koma. Ia berusaha mengakhiri hidupnya dengan menabrakan diri ke mobil yang sedang kencang melaju di Jalan Cakranegara di sebuah kota kecil di sisi timur Indonesia itu.

Kategori
Cerita Pendek

Anakku, ini Untukmu Kelak

diambil di Borobudur, 2020

Sudah pukul sebelas malam. Aku melihatmu tertidur dengan tangan terlipat di sebelah meja kerjaku dengan lampu yang remang. Aku masih ingat dua jam yang lalu kamu bilang, “Mau temani ayah sekali-kali”. Khas dengan suaramu yang masih cempreng. Permintaanmu itu yang membuat aku harus melakukan tawaran bak ahli negosiasi di bursa saham kepada ibumu. Kita sama-sama tahu kalau kamu terlewat jam tidur. Besoknya kamu akan bangun kesiangan. Sedangkan, kamu harus sekolah juga. Tapi, ibumu mengizinkan. Sekali-kali katanya.

Kategori
Refleksi

Ode untuk Manusia

Izinkan “saya” menggunakan “aku”.

Aku selalu bilang kalau waktu itu benda mati. Tidak akan sakit hati kala dimaki ataupun dijauhi. Tapi, akhir – akhir ini sepertinya banyak orang alergi pada waktu. Aku pun begitu. Aku paham. Saat manusia tidak sanggup menghadapi masalahnya. Kemungkinan besar. Masalah tersebut akan disalurkan kepada objek ataupun subjek lain. Sayangnya, budaya timur kita yang santun. Membuat aku, kamu, dan kita semua tidak mau menyalurkan masalah ke orang lain. Lebih mudah dilemparkan tanggung jawab ini kepada waktu. Toh, waktu tidak akan menuntut kan?