Why It’s Okay to Not Have it All Figured Out

It has been a long year. Too long for some person maybe. But for me, this year is short. Maybe my office policy about work form home since March does make this year look so short for me.

So, Covid-19 is still a thing, huh?

I remember in March we though (or just some of us) that Covid gonna last only till May or June. Boom, reality happens, and like we know this pandemic not gonna end even until next year. My mother also got infected and thank god that she is okay. Already tested negative last week. But the first time i hear the news, it broke my heart to pieces.

A lot of things happen this year. Because of this pandemic. Us, in Ministry of Social Affairs (MoSA) got pretty busy. Staying in the office till late night, lack of sleep, and a few times visit to emergency unit in hospital. Even though im not working in our Headquarter in Salemba, the tension is still there because of our part in national economic recoveries program or Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

I’m still a social worker. Managing more than 10 cases this year. Different case, bring different experience. This year i have client that got served with our sensational UU ITE. Some client with addiction, thievery, and also some are the perpetrator of sexual abuse to children. Almost in constant number every year.

This year i also got a new additional task, as a planner or perencana. Translating the program that we need to help children and it families to a details of financial number and term of reference or guideline. That’s why i rarely write anyomore (it is an excuse).

Oh, in February my very first journal is published. The title is “Burnout of Medical Social Worker”. It took place in Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung. If you want to read it just email me, and i’ll send you the link. Hopefully in 2021, there will be more academic publication from me.

2020 happen like a river that flow from mountain to a waterfall with high cliff. I’m an overthinker, and 2020 really did me good. One sadness to another in a swift. One hapiness to another also in a blink of eye.

2020 is a year of gratitude.

I still don’t know what gonna happen in the future. But i do know that i need to enjoy every bit of emotion that comes through.

Thank you for all that happens in 2020, even if i can change the past. I won’t change anything from this year. See you guys on the next year that probably gonna be the same, unless you make it as a memories in everything you do.

Be healthy, be safety. It is okay to not have it all figured out. Expect more from me in 2021.

Ciao!

Your friendly social worker,

R. B. Kartiko Aji

Maaf Bapak

Salah satu pertanyaan yang sering saya tanyakan saat asesmen kepada anak adalah, “Kenapa kamu melakukan hal tersebut?” Seringnya akan dijawab, “Pergaulan pak”. Perilaku anak salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Model sosial ekologi sering disebutnya. Maka dari itu target perubahan yang direncanakan bukan hanya kepada anak sebagai sasaran saja. Tapi, juga termasuk keluarga, komunitas yang lebih luas, atau faktor-faktor lingkungan lain yang menjalani interaksi dengan anak.

Saya juga sering berdiskusi dengan rekan sejawat terkait hal ini. Saya sampaikan bahwa belum ada banyak sosok yang bisa ditiru oleh anak di lingkungan disini. Komunitas terdekat mereka yang justru malah menjadi trigger utama perilaku penyebab masalah anak-anak. Tidak selalu secara sukarela anak-anak jatuh dalam lubang masalah. Bisa melalui intimidasi ataupun cara-cara persuasif dengan pemberian barang yang tidak bisa dijangkau anak-anak secara gratis, contohnya NAPZA. Apabila sudah menjadi sebuah kebutuhan, para bandar bisa dengan mudah masuk untuk mempengaruhi anak-anak. Menjadi pengguna, atau menjadi kurir.

Sekarang pertanyaannya kalau lingkungan sekitar anak belum mendukung, lalu bagaimana?

Ada anak yang menemukan role model mereka di televisi, tapi seringnya tayangan di televisi kurang relate dengan kebutuhan anak. Saat ada anak yang sudah menjadikan seorang sosok sebagai role modelnya, justru karena alasan tertentu role modelnya berbalik dari melakukan hal-hal yang membuatnya menjadi role model pada awalnya. Role model hilang, anak jadi bingung.

Itulah beberapa dari kita belakangan ini. Kita ini dibuat sebagai seorang anak yang hanya dapat melihat sosok role model melalui televisi karena terbatasnya akses untuk menjangkau langsung. Lalu, saat kepercayaan sudah terbangun, yang terburuk terjadi. Harapan akan perubahan hilang.

Terlalu tinggi harapan, saat tidak tercapai kecewanya besar.

Terlalu rendah harapan, tidak ada penggerak dari perilaku yang akan dilakukan.

Kalau harapannya hilang bagaimana?

Saya belum tahu. Kalau kamu tahu, bantu saya cari harapan itu kembali.

The Moon and The Sun

The Sun asked The Moon, “Why are you so vulnerable?”
and The Moon said, “Because i choose to.”

The Sun confused, “Why though? Look at me. I’m the most powerful things in the universe. Without me, there will be no life.”

“I know it so well, you are exactly what father want us to be. To be strong. To be a role model. To be perfect. But i’m not you. I choose to be vulnerable around her. Because she also choose to be vulnerable around me. Sometimes you just find things.” said The Moon.

***

S-P-O-K yang Pulang

S-P-O-K yang salah dipahami.

Pulang tidak pernah terkait keterangan tempat yang memunculkan ingat, ketika ada waktu yang sempat.

Pulang juga bukan objek, yang jadi bahan ejek dari teman lama di warung seberang pangkalan ojek.

Predikat juga enggan mengakui pulang. Alasannya karena yang pulang akan selalu dianggap pecundang.

Tapi, akhirnya aku sadar, kalau pulang itu selalu tentang subjek yang menghadirkan sosok.

Bersamanya dirawat ingatan, yang menemani petang yang dingin hingga pagi yang nyaman. Pulang itu selalu tentang kamu, dan semua sisi baik juga buruk yang menjadikannya candu.

Kemungkinan Idul Adha

Dikirim oleh seorang teman

Tiap-tiap dari kita menjalani hari-harinya dengan berlalu begitu saja. Sampai kadang sengaja tidak menyadarkan diri bahwa yang terjadi adalah akumulasi dari kemungkinan. Akumulasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan tidak terjadi. Dipilih atau tidak dipilih dengan berbagai macam latar belakang dan pertimbangannya.

Lagi

Sua;Sua

*tuk tuk tuk*

Terdengar ketukan nada-nada dengan ritme yang konstan dari gawai itu. Jari-jarinya sudah mahir untuk mengetik. Apapun medianya. Tetapi, ada hal yang aneh kali ini. Tangannya gemetar dan kalimatnya tidak kunjung diselesaikan. Pernah hampir selesai, tapi kembali dihapus berulang-ulang. Dia ragu kali ini. Ragu untuk bertemu dengan emosi lainnya yang sudah lama tidak dirasakannya.

****

Lagi

Menormalkan Kematian bagi Anak

Saya pernah membaca sebuah puisi yang berjudul Childhood is the Kingdom Where Nobody Dies. Lalu bagaimana bila ada kematian di kerajaan itu? Utamanya di tengan pandemi seperti ini. Kekhawatiran banyak orang muncul dengan diumumkanya pembukaan sekolah-sekolah berdasarkan kesepakatan bersama dari teman-teman Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama dan juga Kementerian Kesehatan.

Dunia memasuki tatanan normal baru. Indonesia juga termasuk di dalamnya. Banyak yang harus dipaksa berubah. Seperti biasanya juga, perubahan tidak pernah menjadi hal yang mudah. Apalagi perubahan yang harus dipahami dan dijalankan oleh anak-anak.

Anak dalam masa perkembangannya belajar mengenai konsep sakit dan kematian. Saat masuk usia sekolah, setidaknya anak-anak sudah memahami konsep-konsep tersebut. Anak akan tahu saat seorang manusia sakit salah satu ujung akhirnya adalah kematian. Beberapa anak belajar hal ini lebih cepat dari yang lainnya.

Lagi

Orang Baik

Aku selalu percaya bahwa manusia tidak pernah tahu apa yang dituliskan untuk dirinya. Kamu dan aku sama – sama tahu akan hal itu. Tapi, sepertinya sulit sekali untuk berpegangan teguh kepada sesuatu yang jauh ada di depan. Sesuatu yang kita tidak akan pernah tahu bagaimana yang sebenarnya. Kita diminta untuk harus memahami bahwa ada skenario terbaik yang sudah dituliskan oleh Yang Maha Mengetahui akan perjalan kita. Prosesnya tidak akan mudah. Penuh batu terjal dan juga karang yang tajam. Belum lagi angin dingin yang membuat sesak nafas apabila terjebak di dalamnya.

Lagi

Laki-Laki yang Menunggu di Rumah Sakit

Nafi masih belum terbangun. Keajaiban yang ditunggu – tunggu keluarganya juga masih belum menampakkan kinerjanya. Setiap hari Nafi diberi asupan nutrisi melalui selang makan yang diletakkan di dekat hidung sampai ke lambungnya. Ia juga harus selalu mendapatkan bantuan pernafasan. Nafi koma. Ia berusaha mengakhiri hidupnya dengan menabrakan diri ke mobil yang sedang kencang melaju di Jalan Cakranegara di sebuah kota kecil di sisi timur Indonesia itu.

Lagi

Anakku, ini Untukmu Kelak

diambil di Borobudur, 2020

Sudah pukul sebelas malam. Aku melihatmu tertidur dengan tangan terlipat di sebelah meja kerjaku dengan lampu yang remang. Aku masih ingat dua jam yang lalu kamu bilang, “Mau temani ayah sekali-kali”. Khas dengan suaramu yang masih cempreng. Permintaanmu itu yang membuat aku harus melakukan tawaran bak ahli negosiasi di bursa saham kepada ibumu. Kita sama-sama tahu kalau kamu terlewat jam tidur. Besoknya kamu akan bangun kesiangan. Sedangkan, kamu harus sekolah juga. Tapi, ibumu mengizinkan. Sekali-kali katanya.

Lagi